Harapan Tulus Orang POLO, Bukan Pencitraan yang Dibutuhkan Tapi Bagaimana Mengurangi Tangis Ketidakadilan Di Kepulauan

SUMENEP, kwknews.id- Kunjungan Bupati Sumenep Achmad Fauzi menuju Kepulauan Kangean suatu hal biasa. Itu tidak perlu dibangga-banggakan. Kehadirannya untuk menyapa masyarakat kepulauan kewajiban yang harus ditunaikan. Tentu kehadiran Bupati bisa dimaknai sebagai gerakan politik. Itu juga sah-sah saja. Memang sebagai seorang politisi Achmad Fauzi akan mengambil start yang strategis untuk kepentingan jangka panjang.

Hanya saja, kata Ponirin Mika, bupati harus bawa oleh-oleh untuk masyarakat Kepulauan. Anak pulau tidak ingin Bupati hanya meninabobokkan masyarakat Kepulauan dengan senyum, keakraban dan bahkan penghormatan Bupati kepada masyarakat secara berlebihan. Itu tidak terlalu dibutuhkan. Tapi yang dibutuhkan dari Bupati adalah mengurangi tangisan masyarakat Kepulauan lantaran masih tidak terciptanya keadilan bagi masyarakat secara menyuluruh.

“Entah ini dilakukan sebagai safari politik ataupun bentuk tanggung jawabnya sebagai Bupati Sumenep, kita tidak terlalu tertarik untuk membahas kunjungan itu sebagai safari politik. Meski itu sulit untuk dipisahkan. Seyogyanya sebagai seorang pemimpin harus lebih aktif menyapa masyarakat Kepulauan, agar bisa melihat lebih riil kondisi sosial ekonomi, budaya, dan aktivitas keagamaan rakyatnya. Sebagai Bupati kurang tepat apabila hanya membaca kondisi masyarakat yang dipimpin lewat media sosial,” kritiknya.

Setidaknya, kata dia, kunjungan Bupati Achmad Fauzi telah memberikan angin segar bagi masyarakat Kepulauan untuk dapat memberikan solusi terhadap problematika yang dihadapi masyarakat Kepulauan.

“Saya sangat miris membaca berita-berita seputar Kepulauan Kangean. Terlebih soal infrastruktur jalan, kemiskinan, dan lembaga pendidikan. Pertama; jalan adalah kebutuhan mendasar masyarakat Kepulauan untuk membangun peningkatan ekonomi ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini jalan-jalan umum yang ada di Kepulauan mempeihatinkan. Butuh perhatian dari Bupati. Jalan yang ada tidak layak pakai manusia. Itu terus menjadi tontonan dan lelucon. Membiarkan jalan itu rusak sama halnya dengan mengkhianati keadilan rakyat. Jika jalan itu dibiarkan dengan maksud ada kesengajaan, maka itu tidak dapat dibenarkan sebagai sikap dari seorang pemimpin.

“Kedua; kemiskinan yang tidak terurus dari sebagian masyarakat Kepulauan tengah menjadi isu yang sangat menyesakkan jiwa. Banyak rumah-rumah tidak layak pakai. Ditambah dengan susahnya memiliki rumah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Mereka tidak cukup hanya di subsidi bantuan-bantuan berupa materi semata. Tapi akan lebih baik sekiranya ada pelatihan-pelatian produktif untuk kepentingan-kepentingan mereka,” imbuhnya.

Terakhir, lanjut Ponirin, lembaga Pendidikan seperti sekolah sangat jauh dari ideal. Pendidikan adalah dasar dari pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas. Sedangkan gedung sekolah di desa-desa sangat memprihatinkan. Ditambah dengan banyaknya guru yang kurang aktif untuk mengajar. Ini persoalan utama yang butuh penyelesaian serius.

“Apabila ketiga masalah ini terlewatkan dari kunjungan Bupati di Kepulauan Kangean. Sebaiknya tidak perlu Bupati berkunjung. Cukup kepala desa-kepala desa yang ada di beri amanah untuk mencatat keluhan dan masalah-masalah di Kepulauan. Setelah itu bisa dititipkan di Kapal Hulalo,” begitulah kritik pedas disampaikan Pembina Forum Pemuda dan Mahasiswa Gelaman, Arjasa, Sumenep.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *