Atas Petunjuk Para Tokoh, Ketua KWK Berharap Polemik Kasus Dugaan Penistaan Oleh Hadrawa Dihentikan

Atas Petujuk Para Tokoh, Ketua KWK Berharap Polemik Kasus Dugaan Penistaan Oleh Hadrawa Dihentikan
Foto Ketua KWK Kiri, dan Pengurus NU dalam klarifikasi dengan Hadrawa

SUMENEP- KANGEAN, kwknews.id- Polemik Persoalan Kepala Desa Jukong-jukong yang diduga ada unsur penistaan dalam Sambutan di acara Wisuda di Yayasan Nurul Abrar  pada malam minggu tanggal.25 Juni 2023 di Jukong-jukong atas,  hendaknya kita akhiri. Apalagi telah ada klarifikasi dari NU, yang melahirkan permintaan maaf dari Kades Jukong-jukong. Hal ini disampaikan oleh H.Safiudin.SH.MH dalam kapasitasnya sebagai Ketua KWK.

Siapa Nurjannah? Pendatang Baru PKB Berani Tarung di Dapil Panas!

Praktisi Hukum : Penangguhan Penahanan Adalah Hak Setiap Orang, Tidak Perlu Diributkan

Kecamatan Kangayan : SK Hasanullah Sah, Tidak ada SK Lain

Kades Jukong-jukong Potensi Dipecat Dengan Berbagai Kasus

Lebih lanjut, H.Piu, panggilan Ketua KWK ini, dengan mengakui kesalahannya dan memintaan maaf saya kira sudah cukup. Semuga membuat dia ( Hadrawa ) lebih banyak instrospeksi agar tidak lagi mengeluarkan statemen yang menimbulkan kegaduhan, apalagi dia seorang pimpinan di desa.

Ditanya isi pidatu Hadrawa ( Kades Jukong- jukong ) apakah mengandung penistaan, dalam kontek ini tergantung rujukan apa yang mendasarinya, karena persoalan kebenaran itu bebas untuk menilai, akan tetapi rujukan selama ini adalah Majelis Ulama Indonesia ( MUI ). Setelah saya berkoordinasi dengan tokoh-tokoh di Kangean, Kh.Nurul Huda, Kh.Mujtaba dan Tokoh -tokoh di Sumenep, kesemuanya saya simpulkan lebih menghendaki klarifikasi dan jika dia ( Hadrawa ) meminta maaf persoalannya hendaknya dihentikan.tandasnya.

Secara pribadi saya menilai Hadrawa tidak punya niat menista, lebih kepada keterbatasan keilmuannya. Keterbatasan keilmuan dan dia punya jabatan sehingga terkadang dia kebablasan.

Sebagaimana viral video berisi ungkapan diduga penistaan di berbagai Media Grup WatsAp Komunitas Warga Kepulauan ( KWK ) yang kemudian diunggah di sebuah Aplikasi Tiktok-kwknews.id.

” Manabi manusia paneka taenggi korupsi sadeje. Sadejeh korupsi. Sedangkan nabi dan para wali paneka korupsi. Kenapa korupsi ? Mungkin karena ada kehilafan terhadap beleh tatangge namun bisa saling memaklumi. Setak korupsi neka Duek faktor neka Duek macem. Subhanahu Wataaala sareng malekat, paneka tak korupsi. (Namanya manusia pasti korupsi semua dan semuanya korupsi. Nabi dan Wali itu Korupsi. Kenapa korupsi ? mungkin karena ada kekhilafan terhadap tetangga namun bisa saling memaklumi . Yang tidak korupsi itu ada dua faktor dan dua macam, yaitu Allah dan Malaikat, itu tidak korupsi,” Demikian penggalan celoteh ngelantur dari Kades Jukong Jukong, Kecamatan Kangayan, Hadrawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *