Dibalik Rok Perempuan Bernama Ita

penulis artikel
Ponirin Mika, penulis artikel dibalik rok perempuan bernama Ita

Suatu ketika saya mengantar istri berbelanja di Diva, tempat pembelanjaan orang-orang Probolinggo dan sekitarnya.

Sebagaimana biasa, saya tidak suka mendampingi istri ke tempat barang yang mau di beli seperti barang-barang berupa sembako. Saya suka duduk di tempat tunggu, dekat parkir mobil yang berjejer. Sembari menunggu saya suka melihat orang yang lewat di depan saya, agar saya bisa menyapa orang-orang yang saya kenal.

Waktu menunggu istri tidak pernah saya sia-siakan, biasanya saya buka WA dan menghubungi beberapa teman yang bisa di ajak ngobrol. Saya pasti memilih teman-teman aktivis dari pelbagai aliran organisasi agar dalam obrolan itu bisa terarah terutama membahas tentang isu-isu kekinian yang tentu kaitannya dengan pemberdayaan keummatan.

Tiba-tiba ditengah obrolan itu, saya melihat beberapa perempuan duduk di depan saya dengan rok pendek dan baju kaos pendek yang lumayan tipis-tipis.

Saya tetap di tempat duduk dan mengajak ngobrol mereka, terutama Ita, perempuan yang sangat familier dan komunikatif. Ia terus melanjutkan obrolan bersama saya, dan materi obrolannya soal pemberdayaan perempuan dan masyarakat tertindas. Yang paling mengagumkan bagi saya, saat Ita menyampaikan tentang teori karl mark dalam melakukan gerakannya.

Rok dan kaos pendek yang ia pakai tidak lagi menjadi pengganggu bagi saya. Justru saya tidak lagi mempersoalkan hal itu. Awalnya saya grogi hehe, tapi setelah obrolan berlanjut, semua itu hilang, dan yang ada adalah ide dan gagasan tentang banyak hal terutama yang di atas tadi saya sebutkan.

Ita adalah salah satu diantara beberapa orang perempuan yang tidak memperhatikan soal formalistik agama, melainkan lebih kepada prihal yang subtansi dalam agama, diantaranya soal pembelaan bagi kaum lemah.

Ita adalah seorang wanita yang tidak pernah aktif di organisasi kemahasiswaan seperti HMI, PMII, GMNI, KAMMI, IMM dan organisasi kemahasiswaan lainnya, sebab Ita tidak pernah kuliah dia seorang pekerja keras di berbagai macam jenis pekerjaan untuk bisa mempertahankan kelanjutan hidup bersama keluarganya.

Ia hanyalah seorang aktivis perempuan LSM yang memiliki keinginan untuk meperjuangkan nasib seorang perempuan agar tidak termarginalkan.

Mestinya, organisasi elit seperti organisasi kemahasiswaan tidak kalah dengan seorang Ita yang terus memikirkan nasib rakyat, melalui diskusi, gerakan dan bahkan usaha-usaha kecil yang dirintisnya.

Ayah, saya sudah selesai belanja. Ayo kita pulang kata istri saya, tapi cari makan dulu. Aku pun pamit sama Ita dan temannya, dan aku bilang, kita baru kenal tapi kau mengajarkan semuanya. Terima kasih Ita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *