Hilangkah Rasa Kemanusiaan Sang Pemimpin

Oleh : H.Safiudin

Tulisan ini hanyalah penilaian diahir tahun kepada sang pemimpin,  tepatnya semacam sarkisme, satire yang digunakan orang- orang dahulu dalam mengungkapkan perasaan yang terabaikan.

Dalam letupan petir, ombak , beselimut hujan, angin ditambah tempat tidak layak sekitar 139 penumpang dari kepulauan berjubel di Kalianget. Bekal mereka sudah mulai menipis, ada yang sudah mulai pinjam ke famili hanya untuk bertahan hidup, sementara pemberangkatan kapal baru diperbolehkan tanggal 06/01/2023 mendatang. Itulah gambaran kehidupan saudara kita kepulauan di penampungan yang bukan penampungan sekaligus  gambaran sang pemimpin negeriku sumenep.

Ada juga yang anaknya meninggal di kangean, kesedihannya tak tertahankan,  dia tampa dihadapan kepergian sang anak yang pulang hanya karena anak yang sedang sakit di kampung,  tapi apalah daya lagi-lagi sang pemimpin tidak seperti sang pemimpin Gresek untuk rakyatnya di kepulauan Bawean. Dengan tangkas sigap menyediakan Armada Kapal AL .selesai.

Jumlah penumpang yang bertahan di kalianget, itu hanya sebagian mereka yang tidak punya sanak famili, tapi sesungguhnya ada 500an warga kepulauan tertahan di sumenep, mereka sebagian ada di hotel, pengenapan dan rumah- rumah famili.

Kasian nian, itulah yang dialami saudara kita di kalianget.

Itang Tokoh pemuda Kangean mengungkapkan kekecewaannya kepada sang oemimpin di media grup KWK .

Apa mau di lanjut kan 2 periode atau cukup sudah,Karana kita terabaikan apa yg kita bisa banggakan sebagai orang pulau kalau hari ini saudara kita cuma bisa menerima nasi bungkus

Terdengar pula beberapa orang membicarakan sang  pemimpin Sumenep, yang konon ingin berkantor di Kangean bahkan di kepulauan lainnya. Namun dalam kerinduan atas ungkapan waktu berkampanye itu , tak nampak batang  hidungnya, bahkan sibuk pencitraan diri, menghamburkan hadiah.

Wahai sang peminpin, hilangkah rasa kemanusiaanmu, hilangkah urat nadi rasa ibamu pada rakyatmu.

Dulu engkau perjanjikan pulauku demi jabatanmu….

 

Janji Politik tidak harus dipercaya tapi janji politik wajib ada.

Janji politik sangat identik dengan awal kebohongan sang pemimpin

Janji politik seolah-olah hanya menjadi pemanis bibir semata untuk mengelabui rakyat agar tertarik memilih dirinya padahal dari semula janji tersebut (mungkin) telah direncanakan untuk tidak dipenuhi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *